TUGAS
SOFTSKILL ETIKA & PROFESIONALISME TSI (2)
Nama
: Tantyo Rahmat Widodo
Kelas
: 4KA36
NPM
: 18113794
DAFTAR ISI
1.Pengertian
Hoax.................................................................................................................. 3
1.1 Pengertian Hoax...................................................................................................... 3
1.2Asal usul kata
Hoax................................................................................................. 3
2.Contoh Hoax di Media Sosial............................................................................................. 5
3.Pasal-pasal
tentang Hoax ................................................................................................... 8
4.Daftar Pustaka
................................................................................................................. .10
1.Pengertian
Hoax
1.1 Pengertian Hoax
Pemberitaan palsu atau
hoax adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai
sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu. Salah satu contoh pemberitaan palsu yang paling umum adalah
mengklaim sesuatu barang atau kejadian dengan suatu sebutan yang berbeda dengan
barang/kejadian sejatinya. Suatu pemberitaan palsu berbeda dengan misalnya
pertunjukan sulap; dalam pemberitaan palsu, pendengar/penonton tidak sadar sedang
dibohongi, sedangkan pada suatu pertunjukan sulap, penonton justru mengharapkan
supaya ditipu.
1.2 Asal usul kata Hoax
Kata atau istilah hoax
muncul pertama kali di kalangan pengguna internet Amerika. Kata hoax
terinspirasi dari film : The Hoax.
The Hoax adalah film
drama Amerika pada tahun 2006 yang disutradarai Lasse Hallstrom. Film ini
dibuat berdasarkan buku dengan judul yang sama oleh Clifford Irving serta
Howard Hughes yang dianggap membantu menulis.
Namun, menurut
filosofis Inggris, Robert Nares (1753-1829), hoax muncul sejak abad 18 dengan
kata lain “hocus” atau permainan sulap.
Alexander Boese dalam "Museum of Hoaxes"
mencatat hoax pertama yang dipublikasikan adalah almanak (penanggalan) palsu
yang dibuat oleh Isaac Bickerstaff alias Jonathan Swift pada 1709.
Saat itu, ia meramalkan kematian astrolog John
Partridge. Agar meyakinkan, ia bahkan membuat obituari palsu tentang Partridge
pada hari yang diramal sebagai hari kematiannya.
Swift mengarang informasi tersebut untuk mempermalukan
Partridge di mata umum. Partridge pun berhenti membuat almanak astrologi hingga
enam tahun setelah hoax beredar.
Penyair aliran romantik Amerika Serikat, Edgar Allan
Poe, pun diduga pernah membuat enam hoax sepanjang hidupnya, seperti informasi
dari hoaxes.org yang dikelola Boese.
Poe, sekitar 1829-1831, menulis di koran lokal
Baltimore akan ada orang yang meloncat dari Phoenix Shot Tower pada pagi hari 1
April. Orang itu ingin mencoba mesin terbang buatannya, dan akan melayang ke
Lazaretto Point Lighthouse yang berjarak 2,5 mil.
Saat itu, Phoenix Shot Tower, yang baru dibangun,
merupakan bangunan tertinggi di AS. Berita orang terbang di gedung tertinggi
itu menarik begitu banyak peminat, orang-orang berkumpul di bawah gedung untuk
menyaksikannya.
Tapi, yang ditunggu tidak kunjung hadir. Kerumunan
orang kesal dan bubar begitu menyadari hari itu 1 April. Poe lalu meminta maaf
di koran sore, menyatakan orang itu tidak bisa hadir karena salah satu sayapnya
basah.
Salah satu hoax yang sering beredar adalah ancaman
asteroid menghantam bumi sehingga menyebabkan kiamat. NASA, pada 2015 lalu,
membantah rumor asteroid jatuh dan mengakibatkan kerusakan besar di bumi.
Menurut mereka, asteroid yang berpotensi berbahaya
memiliki 0,01 persen berdampak pada bumi selama 100 tahun ke depan.
"Kalau ada objek besar yang akan merusak pada
September, tentu kami sudah bertindak sekarang," kata Manajer Objek Dekat
Bumi NASA, Paul Chodas, pada Agustus 2015 lalu.
Saat itu, ia meramalkan kematian astrolog John
Partridge. Agar meyakinkan, ia bahkan membuat obituari palsu tentang Partridge
pada hari yang diramal sebagai hari kematiannya.
Swift mengarang informasi tersebut untuk mempermalukan
Partridge di mata umum. Partridge pun berhenti membuat almanak astrologi hingga
enam tahun setelah hoax beredar.
Penyair aliran romantik Amerika Serikat, Edgar Allan
Poe, pun diduga pernah membuat enam hoax sepanjang hidupnya, seperti informasi
dari hoaxes.org yang dikelola Boese.
Poe, sekitar 1829-1831, menulis di koran lokal
Baltimore akan ada orang yang meloncat dari Phoenix Shot Tower pada pagi hari 1
April. Orang itu ingin mencoba mesin terbang buatannya, dan akan melayang ke
Lazaretto Point Lighthouse yang berjarak 2,5 mil.
Saat itu, Phoenix Shot Tower, yang baru dibangun,
merupakan bangunan tertinggi di AS. Berita orang terbang di gedung tertinggi
itu menarik begitu banyak peminat, orang-orang berkumpul di bawah gedung untuk
menyaksikannya.
Tapi, yang ditunggu tidak kunjung hadir. Kerumunan
orang kesal dan bubar begitu menyadari hari itu 1 April. Poe lalu meminta maaf
di koran sore, menyatakan orang itu tidak bisa hadir karena salah satu sayapnya
basah.
2.Contoh Hoax di Media
Sosial
Direktur Institute of Cultural Capital di University
of Liverpool, Simeon Yates, dalam tulisan "'Fake News'- Why People Believe
It and What Can Be Done to Counter It" yang dimuat di world.edu, menyebut
ada fenomena gelembung, atau bubbles, dalam penggunaan media sosial.
Pengguna media sosial cenderung berinteraksi dengan
orang yang memiliki ketertarikan yang sama dengan diri sendiri. Dikaji dari
studi kelas sosial, gelembung media sosial tersebut mencerminkan gelembung
"offline" sehari-hari.
Kelompok tersebut, kembali ke model lama, juga
bertumpu pada opini pemimpin, mereka yang memiliki pengaruh di jejaring sosial.
Kabar bohong yang beredar di media sosial, menjadi besar ketika diambil oleh
situs atau pelaku terkemuka yang memiliki banyak pengikut.
Kecepatan dan sifat media sosial yang mudah untuk
dibagikan, shareability berperan dalam penyebaran berita.
Masalah berikutnya adalah bahwa mencabut "berita
palsu" di media sosial saat ini kurang didukung oleh teknologi. Meskipun
tulisan dapat dihapus, ini adalah tindakan pasif, kurang bermakna daripada
pencabutan satu paragraf di surat kabar.
Jadi apakah berita palsu adalah manifestasi dari masa
media digital dan sosial, tampaknya mungkin bahwa media sosial dapat memperkuat
penyebaran informasi yang salah.
Ini bukan "persyaratan" teknologi tapi
pilihan - oleh desainer sistem dan regulator mereka (di mana mereka berada).
Dan media mainstream mungkin telah mencoreng reputasi mereka sendiri melalui
liputan berita "palsu", membuka pintu ke sumber berita lainnya.
Alexander Boese dalam "Museum of Hoaxes"
mencatat hoax pertama yang dipublikasikan adalah almanak (penanggalan) palsu
yang dibuat oleh Isaac Bickerstaff alias Jonathan Swift pada 1709.
1.Gerakan Rush Money
Hasutan Rush Money sempat menggema di Indonesia
beberapa waktu lalu. Rush money mulai diperbincangkan netizen di media sosial
ketika isu ini menyebar pasca demo besar 4 November 2016 yang menuntut agar
Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, diadili oleh aparat
penegak hukum atas dugaan penistaan agama.
Isu rush money sengaja disebar oleh oknum
tertentu untuk mengajak masyarakat Indonesia menarik semua uangnya yang berada
di bank BUMN maupun swasta pada 25 November 2016.
Untungnya isu ini langsung ditepis oleh pemerintah.
Menteri Keuangan Sri Mulyani langsung memberikan imbauan agar masyarakat tidak
mudah terhasut. Menurutnya, jika sampai terjebak karena isu ini, kestabilan
ekonomi dan politik di Indonesia akan terganggu. Yang paling buruk bisa
menyebabkan krisis moneter seperti yang pernah terjadi di tahun 1997-1998 lalu.
2. 10 Juta Tenaga Kerja China Masuk Indonesia
Linimasa media sosial dihebohkan dengan penyebaran
berita yang menyebutkan Indonesia kedatangan tenaga kerja asing asal China.
Jumlah yang disebutkan tidak tanggung-tanggung, yakni 10 juta orang. Ada juga
yang menghembus kabar mencapai 20 juta tenaga kerja China.
Presiden Joko Widodo langsung membantah isu yang
meresahkan masyarakat ini. Menurutnya, jumlah TKA asal China sekitar 21.000.
Jumlah ini disebut jauh lebih kecil dibandingkan jumlah TKI di Hong Kong yang
mencapai 153 ribu orang.
Presiden juga menilai isu yang beredar soal TKA ke
Indonesia tidak logis sebab upah bekerja di sini rata-rata masih Rp 1,5 juta
sampai Rp 3 juta, sedikit lebih rendah dibandingkan di China yang bisa diupah
hingga di atas Rp 5 juta.
3. Foto Jabat Tangan Ahok dan Habib Rizieq
Foto Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama
alias Ahok, berjabat tangan dengan Habib Rizieq Syihab menyebar di media
sosial. Foto ini kemudian menjadi perbincangan hangat antar netizen.
Hubungan Ahok dengan Habib Rizieq yang dikenal kurang
harmonis sangat bertolakbelakang dengan apa yang ditampilkan dalam foto itu.
Bahkan, Habib Rizieq termasuk yang paling lantang menuntut Ahok ketika kasus
penistaan agama menimpa Ahok.
Gambar yang seakan nyata itu, tak lain adalah hasil
edit seorang pekerja kreatif Agan Harahap yang sangat mahir dalam hal
manipulasi gambar. Agan Harahap pernah memanipulasi gambar dari tokoh-tokoh
terkenal, seperti Angelina Jolie, Kim Kardashian hingga petinju Manny Pacquaio.
4. Jembatan Cisomang yang Bengkok
Pada 22 Desember 2016, salah satu tiang pada jembatan
Cisomang bergeser. Namun, masalah ini justru dimanfaatkan oleh oknum dengan
merilis gambar jembatan bengkok yang tentu saja sudah dimanipulasi.
Foto itu menunjukkan tiang jembatan tersebut terlihat
bengkok dan badan jembatan melengkung. Alhasil, gambar ini langsung mengundang
reaksi netizen di media sosial. Tentu saja foto itu langsung dibantah oleh
pihak PT Jasa Marga Tbk selaku operator Tol Purbaleunyi, tempat Jembatan
Cisomang berada.
Menurut mereka, pergeseran memang ada tetapi hanya
bergerak 53 sentimeter. Pergeseran disebabkan karena ada pergerakan tanah di bawahnya.
3.Pasal-pasal
tentang Hoax
Peraturan Perundangan di Indonesia mengenai penyebaran kabar bohong:
Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008
Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
Pasal 28
(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.
(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Undang Undang Nomor 1 Tahun 1946
Tentang Peraturan Hukum Pidana
Pasal 14
(1) Barangsiapa, dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.
(2) Barangsiapa menyiarkan suatu berita atau mengeluarkan pemberitahuan yang dapat menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, sedangkan la patut dapat menyangka bahwa berita atau pemberitahuan itu adalah bohong, dihukum dengan penjara setinggi-tingginya tiga tahun.
Pasal 15
Barangsiapa menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berkelebihan atau yang tidak lengkap, sedangkan ia mengerti setidak-tidaknya patut dapat menduga bahwa kabar demikian akan atau sudah dapat menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi, tingginya dua tahun.
DAFTAR
PUSTAKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar